Entah karena cinta, rasa sayang, atau apapun itu, yang membakar semangat Promotheus begitu membara. Dia turun ke bumi tanpa sepengetahuan dewa dewa lainnya di Olimpus. Melesat dengan cepat dan cekatan serta dengan senyum di wajah yang mengguratkan kerelaan akan apa yang akan dihadapinya nanti. Tekad Promotheus sudah bulat untuk membawa kembali kehangatan yang dulu pernah dimiliki bumi, kembali lagi ke bumi. Di tangannya telah tergenggam api dari halaman para dewa, untuk dihadiahkan kembali pada tanah yang telah membeku tanpanya. Tak lama, suara riang gembira seantero bumi mengiringi perginya Prometheus yang telah menumpahkan kembali api dan kehangatannya di bumi.
Namun di altar para dewa bukan penghargaan yang didapat oleh Promotheus. Zeus yang murka “menghadiahinya” hukuman dengan kesakitan yang tak pernah putus. Promotheus harus rela terikat di gunung batu Kaukasus dengan tangan dan kaki terantai. Bukan hanya itu, Zeus juga mengirimkan seekor burung rajawali besar untuk mencabik dan memakan hati Promotheus yang terikat, setiap harinya. Setiap hari tentunya, karena tiap kali si rajawali mencabik dan memakan hati Promotheus, hari berikutnya telah tumbuh hati yang baru. Prometheus adalah salah satu dewa penghuni Olimpus yang memiliki keabadian, hingga hati yang telah tercabik akan tumbuh kembali. Hanya saja, tiap kali si rajawali datang dan mencabiknya, kesakitan yang tak terkira harus diderita oleh Promotheus. Tapi seperti saat dia tersenyum saat membawa api ke bumi, seperti itu pula senyumnya saat harus menerima kesakitan itu. Promotheus sudah paham sejak awal akan konsekuensi ini, dan dia bangga menaggungnya.
Lalu bila mereka yang mengaku penggabdi “bumi” telah kehilangan “hati” sebelum menjalani segala konsekuensi dari pengabdiannya, ada baiknya mereka duduk dan berteduh serta merenungi segala citanya. Karena layaknya Promotheus, setiap kali dan setiap hari kerja kerja pengabdian digelar maka kita harus siap untuk merasakan sakit dalam hati ini. Dan itu adalah hal yang paling dasar namun paling besar terkorbankan dari diri tiap tiap sang pengabdi. Tersakiti oleh mereka yang “tidak paham” akan kerja kerja kita adalah hal yang pertama akan ada. Bahkan lebih jauh tersakiti oleh mereka yang kita cintai, sayangi dan kita layani adalah hal yang tak pernah bisa terelakkan. Paham akan semua yang pasti akan menyakiti selama “perjalanan” adalah syarat utama para “pengelana”. Begitu pula bagi para mereka yang mengkhidmatkan hidupnya dalam kerja kerja melayani. Namun memahami itu semua bukan untuk mempersiapkan diri guna memberi balas akan rasa sakit itu. Lebih mulia dari itu, rasa sakit adalah cabikan untuk kita lebih tekun, lebih ikhlas, lebih bersemangat dan lebih memaknai kerja kerja kita. Yakinlah hal hal yang menyakiti asa, yang dikirimkan oleh Nya, adalah suntikan yang membuat kita akan lebih kebal dan lebih kuat dalam kerja kerja kita berikutnya. Nikmati saja dan tersenyumlah, karena kita bukan Promotheus, kita tak abadi, maka kesakitan kita pun tak abadi. Fokuskanlah pada “hati” yang akan kembali tumbuh esok, dan bukan yang telah tercabik kemarin.
Oleh: Sang Beruang

dirimu emang termotivasi banget sama film hercules ya mbak haha
BalasHapus