photography by: Sri Agustina (that is me ^^)
Cinta yang luar biasa malah memisahkan Deianira dari kekasih tercintanya, Hercules. Deianira termakan tipuan Nessus, yang mengiming iminginya kesetiaan cinta Hercules. Nessus yang sekarat oleh perlawanan Hercules, mengatakan bahwa darahnya yang dioleskan pada jubah yang dipakai Hercules, akan membuat pahlawan itu tidak akan pernah menduakan cintanya pada Deianira. Maka gugurlah sang pengabdi bumi itu saat mengenakan jubahnya, tubuhnya terbakar hingga ke tulang belulangnya. Deianira yang melihat tragedy itu tak lagi bisa berbuat apa-apa, selain menangis dan menyesali diri, sementara Hercules sudah memasrahkan dirinya karena tiada jalan lain untuk selamat dan karena dia paham bahwa kematiannya paling tidak membuktikan bahwa tidak ada lagi yang kedua untuk Deianira berbagi cinta.
Ya, cinta Hercules tak lagi terbagi, bahkan untuk melindungi bumi dan manusia pun tidak lagi. Pahlawan itu sudah tinggal kenangan. Kekacauan karena perusuh perusuh baru pun bermuculan. Manusia yang menantikan cinta Hercules untuk dilindungi dan berada dalam kehangatan dan keamanan dalam penjagaanya, kini harus kecewa. Hercules tak lagi ada, dia sirna terbakar definisi cinta Deianira yang terlalu sempit. Mungkin Hercules terlalu perkasa hingga membutakan mata hati Deianira dengan filsafat cintanya. Atau karena Hercules adalah demigod atau manusia setengah dewa, yang membuat Deianira tenggelam dalam egonya hingga melupakan bahwa tiap manusia pun punya hak untuk memilikinya. Memiliki sang pahlawan dalam segala sisi hidupnya.
Lantas , apakah kekasih para “pahlawan-pahlawan” dimasa ini juga memberikan “jubah racun” yang sama dengan yang diberikan Deianira kepada Hercules? Bisa jadi bentuk jubah beracun itu kini adalah kesenangan kesenangan yang melenakan, bisa jadi pula hal-hal lain yang membakar hangus potensi-potensi kepahlawanan dia yang dicintainya, hingga pahlawan itu berakhir sebagai pecundang tanpa daya. Ironis memang, bila definisi cinta hanya ditambatkan pada penguasaan dan ego kepemilikan pribadi. Maka tragedi-tragedi ala tewasnya Hercules akan terus ada, dan kepahitan juga akan terus mengkontaminasi.
Yakinlah, dalam epik-epik kepahlawanan, cinta terdefinisi dalam pemberdayaan yang bermuara pada kontribusi besar pada sesama. Semakin besar kecintaan sang pencinta pada yang dia yang dicintainya, maka semakin besar pula usahanya agar dia yang dicintainya bisa terberdayakan dan mampu mengerahkan segala potensi yang dimiliki untuk pembaikan sesama. Cinta seharusnya pula mampu menjadikan keduanya sebagai pahlawan, bagi mereka berdua dan bagi manusia lainnya. Cinta juga seharusnya memberikan “kepemilikan” yang tercintanya pada sesama untuk mengabdi pada bumi.
Bila tragedy Hercules tidak lagi terulang, maka sudah pasti cinta bukan lagi terdefinisi sempit dalam kesakitan hati karena ini dan itu, namun jauh dari itu, cinta akan menjelmakan kontribusi dan kontruksi pada kemanusiaan dan peradaban. Maka sudah saatnya berlari dari definisi cinta tipe Deianira pada definisi cinta kontributif konstruktif.
oleh: Kakak Beruang

tulisan mu tidak lepas dari HERO-HERO jaman dulu mbak hehe,.. cinta memang sulit buat di pahami, baru ketahuan setelah di jalanin ^_^
BalasHapussalam persohiblogan
hahah..jadi berasa jaduls ya :D
BalasHapusAssalamualaikum Salam Bloffers Mampir n Sekalian Follow Di tunggu follow backnya y sobat di http://www.indosandster.net/
BalasHapus