Photo by: My friend, at Bromo
With Anty, my best friend ^^
“Bolehkah aku bertanya padamu tentang sesuatu?” tanya seorang pengelana pada pengelana lainnya.
“Apa?”, balas pengelana kedua bersemangat.
“Seperti apa kau menganggap diriku selama perjalanan ini?”, pengelana pertama melanjutkan pertanyaanya.
“Teman”, jawab pengelana kedua dengan singkat.
“Ooh, dan haruskah aku menganggapmu teman pula atau bolehkah aku menganggapmu selain itu?”, tanya pengelana pertama kembali dengan penasaran.
“Ya, aku temanmu dan jangan anggap aku selain teman?”, tutup pengelana kedua, singkat.
Lalu keduanya terdiam, hening dan memaknai.
=========
Bila kamus beribicara tentang teman, maka definisinya adalah siapa saja yang bersama, mendampingi dan melengkapi kita dalam perjalanan, pekerjaan, perbuatan dan ada rasa kehilangan tanpanya. Teman bukan jabatan, bukan status, bukan anggapan, bukan pula gelar yang diberikan. Teman adalah pemaknaan akan seseorang yang bersama kita, mendampingi kita dan melengkapi kita dalam “perjalanan kita”. Teman jauh dari batasan sempit status dan anggapan, dia adalah sesuatu yang dapat dirasa keberadaannya oleh hati hati yang terhangatkan oleh suasana akan adanya.
Banyak dari mereka yang menjabat sebagai atasan namun gagal menjadi seorang teman bagi bawahannya. Banyak pemimpin yang berapi api namun gagal menjadi teman para pengikutnya. Banyak dari Ayah dan Ibu yang pula gagal menjadi teman anak-anaknya walau mereka kadang sering bersama. Banyak dari para suami atau istri yang tak mampu menjadi teman pasangannya. Banyak dari mereka yang merasa besar dan agung, bangga akan status ini dan itu namun pada esensinya gagal untuk menjadi teman dari sesamanya. Banyak dan banyak lagi kegagalan yang ada hanya karena hilangnya makna dan semangat “teman”. Keberadaan mereka hanya sekedar status dan tak lebih dari itu.
Bahkan Tuhan pun dengan segala keagunganNya, selalu menginspirasikan tentang diriNya sebagai teman bagi para makhluknya. “Aku dekat…”, ”Aku bersamamu…”, “Aku lebih dekat dari urat lehermu…” dan lain lain firmanNya yang mengisyaratkan betapa Dia Yang Maha Kuasa, juga adalah Yang Maha Memiliki makna teman. Dan yang pasti Dia bukan sekedar ingin kita menjadikannya teman, namun lebih dari itu Dia menginginkan makna dan semangat “teman” akan selalu ada pada diri kita yang bekerja padaNya untuk melayani ciptaanNya.
Semangat teman adalah bersama, mendampingi dan melengkapi. Dalam makna teman ada pula jiwa jiwa yang siap melayani dan pantang menyerah demi maknanya itu. Teman adalah makna yang lebih dari cukup untuk mengarungi laut kehidupan. Tak perlu status ini dan itu, teman adalah lebih. Dan bila memang status adalah syarat untuk hal ini dan itu, maka tempatkan makna dan semangat teman diatasnya. Dan biarkan semangat dan makna itu menuntun kita dalam kerja kerja yang membaikkan. Hingga Yang Maha Teman tersenyum karena kehangatan makna dan semangat itu.
Banyak dari mereka yang menjabat sebagai atasan namun gagal menjadi seorang teman bagi bawahannya. Banyak pemimpin yang berapi api namun gagal menjadi teman para pengikutnya. Banyak dari Ayah dan Ibu yang pula gagal menjadi teman anak-anaknya walau mereka kadang sering bersama. Banyak dari para suami atau istri yang tak mampu menjadi teman pasangannya. Banyak dari mereka yang merasa besar dan agung, bangga akan status ini dan itu namun pada esensinya gagal untuk menjadi teman dari sesamanya. Banyak dan banyak lagi kegagalan yang ada hanya karena hilangnya makna dan semangat “teman”. Keberadaan mereka hanya sekedar status dan tak lebih dari itu.
Bahkan Tuhan pun dengan segala keagunganNya, selalu menginspirasikan tentang diriNya sebagai teman bagi para makhluknya. “Aku dekat…”, ”Aku bersamamu…”, “Aku lebih dekat dari urat lehermu…” dan lain lain firmanNya yang mengisyaratkan betapa Dia Yang Maha Kuasa, juga adalah Yang Maha Memiliki makna teman. Dan yang pasti Dia bukan sekedar ingin kita menjadikannya teman, namun lebih dari itu Dia menginginkan makna dan semangat “teman” akan selalu ada pada diri kita yang bekerja padaNya untuk melayani ciptaanNya.
Semangat teman adalah bersama, mendampingi dan melengkapi. Dalam makna teman ada pula jiwa jiwa yang siap melayani dan pantang menyerah demi maknanya itu. Teman adalah makna yang lebih dari cukup untuk mengarungi laut kehidupan. Tak perlu status ini dan itu, teman adalah lebih. Dan bila memang status adalah syarat untuk hal ini dan itu, maka tempatkan makna dan semangat teman diatasnya. Dan biarkan semangat dan makna itu menuntun kita dalam kerja kerja yang membaikkan. Hingga Yang Maha Teman tersenyum karena kehangatan makna dan semangat itu.
oleh : Kakak Beruang
posting yang indah,
BalasHapusteman memang selalu sangat berhaga. tapi lihat dulu tipenya seperti apa. karena memang ada teman yang wajib, sunnah, mubah, makruh, dan haram. cek di http://laranta.blogspot.com/2011/03/tipe-teman-wajib-sunnah-mubah-makruh.html
Inspiring..!
BalasHapuskoq sama ya ninul?
BalasHapusaku juga lagi posting tentang 'teman baru'
Teman memang harta karun yak?
*big hug*
@M. Ridwan : yups..sejatinya teman adalah hal yang harus disyukuri..klo yang haram tidak layak dijadikan teman..heheh
BalasHapus@Mr. Aan : Alhamdulillah..thank you :)
@Debo : siap meluncur ke ruamh mu..sehati kitee..hahah
Alamaaaaak, membuat saya terharu ingat teman2.., saya save do Bookmark aaah...
BalasHapus@Qefy: Sippo..:)
BalasHapusNinaaaa....Belum follow back aku yah...ayo cepat folbek ^___^
BalasHapusbwahahahha..lupaa..okeh deh temans :D
BalasHapusfood for thouhght...
BalasHapussetuju...
suka senyum2 sendiri kalau inget pertama kali ketemu teman2 saya...
ada yang unik2...
Semangat sore....salam kenal aq juga pengin jadi temanmu...
BalasHapus